Saudara-saudara, hendaklah tiap-tiap orang tinggal di hadapan Allah dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil.

(1 Korintus 7:24)

Melting Pot

1 Korintus 7:17-24

Amerika dikenal sebagai bangsa yang multikultural. Di sana, orang dari berbagai macam suku bangsa melebur, meninggalkan kebudayaan lamanya dan masuk ke dalam budaya Amerika. Itulah yang dimaksud dengan melting pot. Orang di sana diibaratkan berada di dalam sebuah panci dan melebur menjadi Amerika. Kenyataannya tidak persis seperti gambaran tersebut. Tiap kelompok suku bangsa di Amerika, tidak benar-benar meninggalkan identitas bangsanya melainkan banyak yang tetap mempertahankan budaya Cinanya, Spanyolnya, Arabnya, dan seterusnya.

Firman Tuhan hari ini menganjurkan kita untuk mampu menghargai budaya seseorang. Ketika orang Yahudi menjadi pengikut Kristus, dia boleh tetap hidup mengikuti keyahudiannya sejauh tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Begitu juga dengan orang Yunani. Mereka tetap boleh hidup sesuai dengan tradisi Yunaninya, sejauh tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Karena hal itu Paulus mengatakan, sunat (wajib untuk Yahudi) menjadi tidak wajib buat orang non-Yahudi. Paulus ingin agar tiap orang tetap hidup dalam keadaan seperti pada waktu ia dipanggil (ayat 24). Maksud Paulus, keunikan budaya seseorang dihargai, sejauh budaya itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Buat pengikut Kristus, yang penting bukan sunat atau tidak sunat, menjalankan tradisi budaya tertentu atau tidak, tetapi melakukan hukum Tuhan (ayat 19).

Teens, ada anggapan menjadi Kristen itu identik dengan menjadi Barat. Orang Kristen Cina, Sunda, Batak atau Jawa tanpa sadar kehilangan budaya-budaya sukunya, lalu menjadi seperti orang Barat. Ini terlihat dari sedikitnya alat musik tradisional di gereja. Yang ada alat musik organ atau piano yang khas Barat. Idealnya, kita tidak harus meninggalkan budaya suku kita, sejauh budaya itu tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan. Sebab yang penting bukan menjadi Barat tetapi menjalankan kehendak Tuhan dalam keunikan diri dan budaya kita.