“… karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

(Ibrani 12:6)

Kukasihi, Kutegur, Kuhajar

Wahyu 3:19

Teens, biasanya anak-anak kecil punya ukuran sendiri tentang ortu (orangtua) yang mengasihi mereka. Ortu yang mengasihi menurut anak-anak adalah ortu yang mau memenuhi semua keinginan anak-anaknya, tidak pernah marah, tidak pernah menghukum anak-anaknya yang salah. Sebaliknya, bila keinginan anak-anak tidak dipenuhi, kerap kena hukuman bila salah atau dimarahi bila melakukan hal yang tidak benar, anak-anak itu menganggap ortu mereka tidak mengasihi mereka.

Hari ini teks yang kita baca justru bicara hal yang berbeda. Tuhan menegaskan bahwa tanda Dia mengasihi jemaat adalah ketika Ia tidak tinggal diam terhadap kesalahan dan pelanggaran yang mereka lakukan, tetapi sebaliknya, Ia akan bertindak tegas: menegur dan menghajar. Dalam bahasa aslinya “menegur” dan “menghajar” bukan sekadar mengingatkan dan menghukum, tapi berarti mengingatkan dengan keras tentang kesalahan yang dilakukan dan mendidik dengan penuh disiplin. Diharapkan, hukuman tersebut dapat menjadi cambuk supaya tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Semua Tuhan lakukan bukan untuk menghancurkan atau menghabisi jemaat-Nya. Tapi menegur dan menghajar itu Tuhan lakukan dengan tujuan supaya umat-Nya sadar dan kembali hidup benar. Itulah kasih yang besar dari Tuhan. Justru ungkapan yang menyatakan murka Tuhan yang paling besar adalah, saat Ia tidak lagi murka terhadap kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan umat-Nya.

Teens, kalau kamu ditegur dan dihukum oleh ortu atau gurumu karena melakukan kesalahan, itu tandanya kamu masih mereka kasihi. Mereka ingin supaya kamu bisa sadar dan memperbaiki diri. Lewat kasih dan kepedulian mereka itulah, sebenarnya Tuhan juga sedang mengasihi kamu. Ia juga ingin kamu menerima dengan syukur semua masukan, teguran dan didikan untuk kebaikan hidupmu di masa kini dan masa depan.