Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

(2 Korintus 8:2)

Memberi di Tengah Kekurangan

2 Korintus 8:1-5

Siapa yang harus memberi dan berbagi dengan sesamanya? Orang kaya! Merekalah yang harus bersedia menjadi berkat bagi orang lain. Apa yang bisa diberikan orang miskin selain meratapi kemiskinannya? Pandangan ini yang sering kali kita percayai. Ironisnya tidak ada orang yang merasa cukup kaya untuk berbagi dengan orang lain sehingga kita selalu saja dengan mudah melempar tanggung jawab ini kepada pihak lain. Saya tidak punya apa-apa untuk dibagikan kepada orang lain. Biarlah teman saya saja yang melakukannya sebab ia lebih kaya daripada keluarga saya. Apakah demikian?

Dalam bacaan kita, kita menemukan sebuah keteladanan yang sangat indah dari kehidupan jemaat di Makedonia yang dengan segala kekurangan dan keterbatasannya justru bersedia berbagi dengan penderitaan sesamanya. Jemaat Makedonia ada dalam penderitaan dan hidup dalam kemiskinan, tetapi kekurangan itu tidak membuat mereka menjadi lumpuh untuk dipakai menjadi berkat Allah. Dalam ketaatan mereka kepada Allah mereka mampu menjadi kaya dalam kemurahan hati. Dalam kekurangan mereka dapat memberi. Jadi kemauan untuk berbagi, kerelaan hati untuk menjadi berkat bagi orang lain, tidak tergantung dari berapa kaya kamu tetapi tergantung dari kasihmu kepada Allah dan sesama. Makedonia dapat melakukan hal itu sebagai bentuk ketaatan mereka kepada Allah. Apa yang dilakukan jemaat Makedonia sangat indah dan membangun, menjadi teladan bagi kita semua.

Teens, biarlah sejak muda kita melatih diri kita untuk menjadi pribadi yang suka berbagi. Pribadi yang murah hati, berapa pun materi yang kita miliki. Kita dapat berbagi bahkan dari uang jajan kita setiap hari. Selalu ada cara untuk dapat menyalurkan berkat Tuhan bagi sesama dalam keseharian kita. Berani berbagi bahkan di tengah kekurangan kita.